For ELFemmily

13 + 2 + ELF ✰ ONE

K-POP dan Degradasi Kebanggaan Budaya Lokal

GEMPURAN suguhan hiburan yang berasal dari luar negeri kian menjamur bak cendawan di musim hujan. Bisnis mendatangkan artis internasional nampaknya semakin prospektif seiring tumbuhnya kelas menengah (middle class) yang haus akan hiburan. Beberapa minggu ini publik dihebohkan dengan kontroversi rencana konser Lady Gaga, sosok yang dipuja sekaligus dihujat oleh sekelompok komunitas. Kehadiran NKOTB dan BSB, boyband barat yang ngetop di era 90-an juga menambah daftar panjang artis internasional yang bertandang di Indonesia. Kelesuan perekonomian yang akhir-akhir ini menimpa AS dan negara-negara Uni Eropa membuat Indonesia menjadi salah satu pangsa pasar yang sangat prospektif untuk mendatangkan artis-artis internasional.

Demam K-POP

Belum hilang juga dari ingatan bagaimana heboh dan histerisnya ELF (Everlasting Fans), sebutan bagi para penggemar boyband Super Junior (Suju) dari Korea, ketika idola mereka bertandang ke Ibu Kota. Puluhan ribu tiket yang dijual (yang sama sekali tidak tergolong murah) langsung ludes hanya dalam waktu beberapa jam. Tiga hari konser Suju rasanya tidak cukup untuk memuaskan dahaga para ELF Indonesia. Tidak dapat dibayangkan berapa rupiah untung yang diraup oleh promotor. Fenomena ini menunjukkan Hallyu (demam Korea) yang semakin terasa menyesakkan. Bahkan kini dunia hiburan Korea menjadi kiblat entertainer dan pebisnis dunia hiburan Indonesia, mulai dari drama serial, film, musik, bahasa, budaya dan bahkan fesyen, semuanya berafiliasi pada kecenderungan meniru Korea.

Rasanya, kini K-Pop mencekoki ruang-ruang hiburan kalangan muda. Bermunculannya boyband dan girlband yang seharusnya menjadi warna baru dalam dunia hiburan di Indonesia justru lebih banyak diindikasikan meniru dan bahkan menjiplak persis boyband dan girlband dari Negeri Ginseng tersebut. Tidak hanya itu, banyak juga drama dan FTV yang ternyata mengadopsi cerita drama dari Korea.

Sebetulnya tidak akan menjadi masalah jika menjadikan Korea dan segala cerita kesuksesannya sebagai inspirasi dan motivasi memajukan dunia hiburan Tanah Air. Namun menjadi sangat ironis manakala hallyu yang melanda justru menjadikan pelaku seni semakin tidak kreatif, tidak berani mencoba hal yang baru, hanya ikut-ikutan. Dan bahkan yang lebih parah, menjiplak persis (plagiasi) produk hiburan dari Negeri Ginseng tersebut hanya demi meraih keuntungan yang besar.

Cerita Sukses Dunia Hiburan Korea

Dulunya, Korea Selatan (Korsel) merupakan negara kecil miskin, yang menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. Namun dalam 40 tahun terakhir, Korea menjelma menjadi macan Asia yang dapat disejajarkan dengan China dan Jepang. Pendapatan per kapita yang tinggi, angka kemiskinan yang rendah, dan dunia industri yang kini menjadi raja di banyak negara menjadi indikator keberhasilan pemerintah Korsel dalam mengelola negaranya. Pembangunan ekonomi yang juga dibarengi dengan pembangunan karakter masyarakatnya tidak hanya menjadikan Korea sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi juga dibarengi dengan terbentuknya karakter masyarakat yang nasionalis. Hal ini terlihat dari fakta bahwa masyarakat Korea jauh lebih bangga menggunakan produk dalam negeri dibandingkan dengan produk-produk asing. Coba bandingkan dengan masyarakat di negara kita!

Tidak hanya intervensi pada sektor perekonomian dan pembentukan karakter masyarakatnya, pemerintah Korea yang sadar bahwa SDA yang dimilikinya sangat sedikit, menjadikan budaya dan kekhasan negaranya sebagai komoditas yang akan menguntungkan secara ekonomi. Dan jadilah pemerintah habis-habisan menggarap industri hiburan agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Dan hasilnya, dapat kita rasakan secara nyata di negeri tercinta ini.

Degradasi Kebanggaan Budaya

Badai hallyu yang semakin kencang di Indonesia tidak dapat dimungkiri secara tidak langsung mengebiri kreativitas para pelaku seni, meski tidak semua terpengaruh. Para pebisnis dunia hiburan yang melihat fenomena demam K-Pop beramai-ramai menjadikan K-Pop sebagai kiblat dalam menggarap produk seninya dengan harapan akan laku keras di pasaran karena sesuai dengan apa yang sedang digandrungi pasar.

Para pebisnis dunia hiburan tentu saja tidak salah. Mereka melihat prospek bahwa mengkarbit produk yang ke Korea-Koreaan akan jauh lebih menjual dibandingkan menciptakan produk yang tidak menjadi favorit pasar. Dan begitulah memang seharusnya pebisnis bukan? Melihat peluang dan memenuhi keinginan pasar yang kemudian mendatangkan pundi-pundi uang. Namun, hal yang demikian tentu mendatangkan implikasi yang juga tidak mengenakkan. Terus menerus menjadikan budaya asing sebagai orientasi dalam dunia hiburan Tanah Air secara langsung mengesampingkan serta mengacuhkan pembangunan dan pelestarian budaya negeri sendiri.

Jelas anak-anak muda zaman sekarang pasti akan lebih menggemari musik-musik yang dibawakan Suju dibandingkan musik kehidupan yang dicipta Bimbo atau Ebiet G.Ade. Lebih tahu SNSD daripada Waljinah atau Didi Kempot. Lebih senang dan paham mendengarkan lagu Korea dibandingkan lagu-lagu campursari maupun keroncong. Lebih bangga mengenakan Han Bok (pakaian tradisional Korea) dibandingkan kebaya. Jelas, karena kebudayaan Korea dianggap ‘lebih segala-galanya’ daripada kebudayaan asli Nusantara. Korea menjadi arus utama (main stream) dalam dunia hiburan Tanah Air. Tidak buruk memang, tetapi ketika orientasi yang terus menerus diciptakan hanya merujuk pada kebudayaan bangsa lain hanya untuk meraup untung yang besar, kapan kita bisa menghargai dan mencintai (apalagi melestarikan) kebudayaan lokal?

Banyak hal yang unik dan khas dari kebudayaan Indonesia, tetapi rupanya mata, lidah, telinga dan hati banyak masyarakat mulai alergi pada sesuatu yang berbau ‘tradisional’ atau ‘lokal’. Hal itu karena negara kita gagal menciptakan karakter masyarakat yang bangga akan kebudayaan dan keunikan negeri ini. Indikasi terdegradasinya rasa nasionalisme dapat jelas terlihat dari salah satunya dunia hiburan yang makin sepi produk yang ‘benar-benar Indonesia’, nyep-nyepnya pertunjukan-pertunjukan budaya dan di sisi lain membludaknya masyarakat yang bangga menggunakan dan menikmati produk kebudayaan asing.

Menjadikan Korea atau negara manapun yang berhasil memoles industri seninya sebagai inspirasi memang sebuah hal yang perlu juga, namun menyeimbangkan proporsi antara budaya asing dan lokal menjadi hal yang tidak dapat diacuhkan pula. Biar bagaimanapun, sebagai anak bangsa kita memiliki tanggung jawab moril menjaga keutuhan dan kedaulatan budaya kita dari kikisan arus globalisasi yang mulai merangsek ke sendi-sendi kehidupan bangsa. Kalau tidak begitu, sungguh kasihan para pendiri bangsa dan penggiat budaya Indonesia yang telah mati-matian mencipta dan membentuk ‘rasa asli’ bangsa ini. Bisa menangis mereka dalam kuburnya.

Ironis memang, namun apa daya. Banyak orang beranggapan bahwa ini merupakan salah satu konsekuensi globalisasi. Ya, mungkin benar, ini salah satu dampak dari gombalisasi, eh globalisasi maksud saya.

 

Created by : Ainun Habibah  Mahasiswa S-1 Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik (UGM)

Single Post Navigation

2 thoughts on “K-POP dan Degradasi Kebanggaan Budaya Lokal

  1. ku juga seSUJU dgn artikel diatas,,
    tpi ku juga tdk bisa mlawan arus Hallyu yg dtg!
    thank’s atas Infonya!

  2. ChubbyKyuMinHae on said:

    emm.. iya juga c..
    dan emang bnr apa kt artikel itu.. aq hampir apal smua lagu dari suju / snsd.. tapi klo ebit.g err… yaaa tau reff ny aja x yaa.. wkwk
    emang ironi bnget c.. tp mau gmana lagii.. produk di indo sendiri blm ada yg berkualitas ><
    ayoo indo bwt karya sendiri yg unik dan indonesia bnget.. semangat^^

Leave Your Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • WAU_tab('2pbd8bpawrlj', 'left-middle')
  • %d blogger menyukai ini: